PALEMBANG, BAYANAKA.CO – Insiden kebocoran pipa gas milik PT Pertamina (Persero) di wilayah Sungai Deras, Desa Talang Akar, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) beberapa waktu lalu memicu kepanikan warga sekaligus menjadi sorotan tajam lembaga legislatif daerah.
Peristiwa tersebut tak hanya menimbulkan kekhawatiran soal keselamatan, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar terkait sistem pemeliharaan infrastruktur migas di kawasan tersebut.
Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus Hasbullah SH MH, mengapresiasi gerak cepat tim gabungan yang berjibaku memadamkan api dan melokalisir lokasi kejadian.
Namun menurutnya, langkah tanggap darurat saja belum cukup untuk menjawab keresahan masyarakat yang tinggal di sekitar jaringan pipa gas tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi upaya tim gabungan di lapangan. Tapi ini tidak boleh berhenti di penanganan sementara. Pertamina harus segera melakukan perbaikan menyeluruh dan mengganti pipa yang sudah rusak atau tidak layak. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang,” tegas Firdaus.
Evaluasi Total Infrastruktur Migas di PALI
Insiden kebocoran pipa gas Pertamina PALI ini dinilai sebagai alarm keras bagi pengelolaan infrastruktur migas, khususnya yang melintasi kawasan permukiman warga.
Firdaus menekankan pentingnya evaluasi total terhadap sistem pemeliharaan dan pengawasan jaringan pipa.
Menurutnya, jaringan pipa gas yang telah beroperasi bertahun-tahun harus melalui audit teknis secara berkala.
Usia teknis pipa, standar operasional prosedur (SOP) perawatan, hingga sistem deteksi kebocoran wajib dievaluasi menyeluruh untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Wilayah Sungai Deras sendiri dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas masyarakat yang cukup padat. Keberadaan infrastruktur migas di tengah permukiman tentu membutuhkan standar keamanan ekstra ketat.
“Keselamatan warga adalah prioritas utama. Kami tidak ingin ada korban atau dampak berkepanjangan akibat kelalaian teknis,” imbuhnya.
Dampak Sosial dan Ekonomi Warga
Tak hanya menyoroti aspek teknis, DPRD PALI juga menekankan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan terhadap warga terdampak.
Kebocoran pipa gas Pertamina PALI tersebut menimbulkan kekhawatiran psikologis, bahkan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat sekitar lokasi kejadian.
Beberapa warga dilaporkan sempat mengungsi sementara demi menghindari risiko yang lebih besar. Aktivitas usaha kecil di sekitar area terdampak pun ikut terhenti. Kondisi ini dinilai harus menjadi perhatian serius manajemen Pertamina.





