PALI, BAYANAKA.CO – Yoki Aprisa hanya bisa pasrah. Afifah, anak perempuannya yang baru berusia satu tahun, terbaring lemas di atas ranjang Rumah Sakit Bunda Prabumulih.
Kondisi bocah tersebut memprihatinkan. Kedua matanya membengkak akibat cairan yang mengendap dan membutuhkan tindakan medis berupa penyedotan secepatnya.
Namun hingga dua hari dirawat, belum ada tindakan berarti yang dilakukan pihak rumah sakit. Alasannya, proses pengaktifan kembali kepesertaan BPJS Kesehatan milik Afifah belum selesai.
“Sudah dua hari anak aku nunggu. Kato wong rumah sakit, BPJS aku dak aktif lagi kareno idak dibayari oleh Pemkab PALI,” ujar Yoki kepada awak media, Jumat (09/01/2026).
Kondisi tersebut membuat Yoki dan keluarganya kebingungan. Di tengah kondisi anak yang semakin mengkhawatirkan, mereka harus berhadapan dengan birokrasi yang berbelit.
Keluarga Yoki sempat mendatangi Dinas Kesehatan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) untuk mengurus pengaktifan kembali BPJS Kesehatan kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Namun, jawaban yang diterima justru menambah kegelisahan. Pihak dinas menyampaikan bahwa proses pengaktifan harus diajukan terlebih dahulu ke tingkat provinsi.
“Itulah aku bingung tuh. Nak nunggu ke propinsi nian, alangke lamonyo,” keluh Yoki.
Sebagai warga kecil, Yoki mengaku sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia sehari-hari bekerja sebagai kuli pasar di Pasar Inpres Pendopo.
Penghasilannya pas-pasan, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga setiap hari.
“Gaji aku cuma cukup untuk makan bae. Dak ado siso,” katanya lirih.
Yoki sempat menanyakan kemungkinan pengobatan secara mandiri tanpa BPJS. Namun jawaban yang diterima membuatnya semakin terpukul.
“Aku sudah nanyo biaya kalo pake mandiri. Katonyo harus bayar Rp 8 juta. Mano ado aku duit sebesak itu,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Jumlah tersebut jelas di luar kemampuannya. Dalam kondisi terdesak, Yoki dan istrinya hanya bisa menunggu di sisi ranjang anak mereka sambil berharap ada keajaiban. Setiap jam berlalu terasa begitu lama, sementara kondisi Afifah tak kunjung membaik.
Kini, harapan Yoki hanya tertuju pada perhatian pemerintah. Ia memohon agar ada solusi cepat bagi rakyat kecil seperti dirinya, yang bergantung sepenuhnya pada jaminan kesehatan dari negara.
“Tolong nian kak. Sapo bae wong pucuk yang punyo pangkat, tolonglah kami rakyat kecik ini. Kami idak minta banyak, kami cuma pengen anak kami sembuh,” ucapnya memelas.
Kasus yang dialami Yoki bukanlah satu-satunya. Sebelumnya, pada Selasa (06/01/2026), Pemerintah Kabupaten PALI diketahui menonaktifkan sebanyak 40.499 jiwa kepesertaan BPJS Kesehatan PBI.





