OKI, BAYANAKA.CO – Excavator merupakan salah satu alat berat yang memiliki peran sangat vital dalam mendukung pembangunan daerah.
Alat multifungsi ini lazim digunakan untuk kegiatan normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, pembukaan lahan, hingga pemadatan tanah.
Dalam konteks wilayah perairan dan pertanian, keberadaan excavator menjadi penunjang utama percepatan pembangunan infrastruktur yang berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.
Menyadari pentingnya fungsi tersebut, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melalui Dinas Perikanan Kabupaten Ogan Komering Ilir diketahui telah menganggarkan dana miliaran rupiah dari uang rakyat untuk pengadaan satu unit excavator.
Alat berat tersebut diharapkan mampu menunjang berbagai program pembangunan, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan perairan dan sektor perikanan.
Namun sangat disayangkan, excavator yang dibeli dengan biaya fantastis itu kini justru menjadi sorotan publik.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa alat berat tersebut tidak lagi difungsikan dan bahkan keberadaannya tidak diketahui secara pasti.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar terkait pengelolaan aset daerah yang seharusnya dijaga dan dimanfaatkan secara optimal.
Berdasarkan keterangan dari sejumlah sumber, excavator tersebut tidak pernah dirawat dengan baik sejak beberapa tahun terakhir.
Akibat minimnya perawatan, alat berat itu mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat dioperasikan kembali.
Ironisnya, hingga kini tidak ada kejelasan di mana lokasi excavator tersebut berada dan siapa yang bertanggung jawab atas pengawasannya. Excavator itu juga disebut tidak lagi berada di bawah penguasaan langsung Dinas Perikanan OKI.
Informasi lain menyebutkan bahwa excavator tersebut sempat ditempatkan di wilayah perairan Kecamatan Tulung Selapan.
Pada awalnya, alat berat itu digunakan oleh masyarakat setempat untuk membantu kegiatan pengairan dan normalisasi.
Namun seiring waktu, kerusakan yang terjadi membuat penggunaannya terhenti. Hingga saat ini, excavator tersebut tidak pernah dikembalikan ke Dinas Perikanan OKI sebagaimana prosedur pengelolaan aset daerah.
Salah seorang warga setempat mengungkapkan bahwa kerusakan excavator tersebut sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, pihak Dinas Perikanan Kabupaten OKI disebut tidak memiliki anggaran untuk melakukan perbaikan. Akibatnya, alat berat bernilai miliaran rupiah itu dibiarkan mangkrak tanpa kepastian arah pengelolaan.
Kondisi ini dinilai sangat merugikan daerah, mengingat excavator tersebut dibeli dari dana publik yang seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.





