Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan perangkat digital, terutama ketika menerima pesan mencurigakan, tautan yang tidak dikenal, atau aplikasi dari sumber yang tidak jelas.
“Jangan mudah mengklik tautan yang tidak jelas dan jangan sembarangan mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak terpercaya. Edukasi seperti ini penting agar masyarakat tidak menjadi korban penipuan siber,” tambahnya.
Kolaborasi OJK, Pemkab OKI, dan Polda Sumsel
Sementara itu, Panit 3 Subdit 5 Kamsus Dit Intelkam Polda Sumsel, Ipda Bobby Permana, mengapresiasi kolaborasi antara OJK dan Pemerintah Kabupaten OKI dalam menyelenggarakan kegiatan edukasi anti-scam tersebut.
Menurutnya, kerja sama lintas lembaga sangat diperlukan untuk menghadapi ancaman kejahatan digital yang terus berkembang.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada OJK dan Pemkab OKI yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Edukasi anti-scam sangat penting karena saat ini berbagai modus penipuan melalui dunia digital terus berkembang,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan edukasi ini tidak hanya berhenti di Kabupaten OKI, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Sumatera Selatan.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi percontohan bagi 17 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penipuan siber,” katanya.
Pentingnya Kesadaran Keamanan Digital
Mewakili Bupati OKI, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten OKI, Adi Yanto, menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran keamanan digital atau cyber security awareness di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang siber.
Menurutnya, penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan siber untuk memanfaatkan informasi pribadi seseorang.
Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah membagikan informasi pribadi secara berlebihan atau oversharing di media sosial.
“Kesadaran keamanan digital menjadi sangat penting saat ini. Masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan tidak melakukan oversharing, karena informasi pribadi yang tersebar dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber,” ujar Adi.
Ia juga berharap para peserta yang mengikuti kegiatan edukasi tersebut dapat menjadi agen informasi di lingkungan masing-masing.
Para admin media sosial, konten kreator, mahasiswa, serta peserta lainnya diharapkan dapat membantu menyebarluaskan edukasi terkait keamanan digital kepada masyarakat luas.
Dengan meningkatnya literasi keamanan digital, masyarakat diharapkan semakin waspada dan tidak mudah menjadi korban penipuan di ruang siber.





