Di Tengah Gejolak Global, OJK Pastikan Sektor Jasa Keuangan Indonesia Tetap Aman

by
Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 24 Desember 2025 menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga, didukung kinerja pasar modal dan pertumbuhan jumlah investor di tengah dinamika ekonomi global.
Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 24 Desember 2025 menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga, didukung kinerja pasar modal dan pertumbuhan jumlah investor di tengah dinamika ekonomi global. Foto: Bayanaka.co

BAYANAKA.CO – Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar pada 24 Desember 2025 menilai bahwa stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh tantangan.

Penilaian tersebut didukung oleh kinerja pasar keuangan domestik yang solid, ketahanan sektor riil, serta penguatan di pasar modal dan industri pengelolaan investasi.

Secara global, rilis data perekonomian menunjukkan adanya perbaikan meskipun belum merata. Aktivitas manufaktur global masih berada di zona ekspansi, walaupun lajunya mengalami moderasi seiring melemahnya kepercayaan konsumen dunia.

Untuk tahun 2026, lembaga multilateral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan terus melandai dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi, dipicu meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama.

BACA JUGA:  Delapan Jurus OJK Perkuat Pasar Modal, Investor Global Jadi Target

Di Amerika Serikat, perekonomian tetap menunjukkan kinerja yang relatif solid. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh sebesar 4,3 persen secara tahunan (saar), lebih tinggi dari kuartal sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga, penurunan impor, serta peningkatan investasi di sektor kecerdasan buatan.

Namun demikian, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda moderasi, seiring inflasi November 2025 yang turun ke level 2,7 persen dan inflasi inti menjadi 2,6 persen.

Sebaliknya, perlambatan ekonomi di Tiongkok masih berlanjut. Konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih, sementara dari sisi penawaran, PMI manufaktur kembali berada di zona kontraksi.

BACA JUGA:  Satu Tempat untuk Semua Kebutuhan Event: Harper Palembang Siap Akomodasi hingga 1.500 Tamu

Tekanan di sektor properti juga masih menjadi faktor utama yang membebani pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut.

Perbedaan kondisi ekonomi mendorong beragam respons kebijakan moneter global. The Federal Reserve memangkas Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada Desember 2025, disusul Bank of England yang juga menurunkan suku bunga acuan menjadi 3,75 persen.

Di sisi lain, Bank of Japan justru menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir akibat tekanan inflasi yang relatif persisten.

Perbedaan arah kebijakan tersebut memengaruhi pasar keuangan global. Pasar saham dunia cenderung menguat merespons pemangkasan suku bunga AS, meskipun muncul kekhawatiran terhadap potensi bubble di saham teknologi.

BACA JUGA:  Pengalaman Berbuka Mewah di The Excelton Hotel Palembang, Paket Bukber Mulai Rp188 Ribu!

Sementara itu, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar obligasi global seiring berakhirnya praktik carry trade. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik, termasuk dinamika di Venezuela, yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar global di awal 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *