BAYANAKA.CO – Perkembangan teknologi wearable kesehatan terus melaju pesat. Kini, pelacakan kadar gula darah disebut-sebut akan menjadi frontier besar berikutnya dalam industri perangkat kesehatan pintar.
Hampir semua pemain utama teknologi global dirumorkan sedang mengejar solusi pemantauan gula darah berbasis pergelangan tangan.
Salah satu yang terbaru, Garmin dikabarkan tengah mengeksplorasi pendekatan inovatifnya sendiri.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa sebuah paten baru yang muncul menunjukkan Garmin sedang mengembangkan metode untuk memperkirakan HbA1c, indikator jangka panjang yang digunakan dokter untuk mengevaluasi rata-rata kadar gula darah seseorang.
HbA1c sendiri menjadi standar penting dalam pemantauan risiko diabetes, karena memberikan gambaran kondisi metabolisme selama beberapa bulan terakhir.
Fokus pada Tren Jangka Panjang, Bukan Real-Time
Teknologi yang diajukan dalam paten tersebut menggunakan sensor optik, mirip dengan yang sudah tertanam dalam jam tangan pintar Garmin saat ini.
Berbeda dengan perangkat continuous glucose monitor (CGM) yang memberikan data kadar gula secara real-time, pendekatan Garmin ini lebih menekankan pada tren jangka panjang.
Jika berhasil, metode ini berpotensi memberi pengguna pemahaman yang lebih luas tentang kesehatan metabolisme tanpa perlu tusukan jari atau sensor eksternal.
Hal ini tentu menjadi terobosan besar, terutama bagi masyarakat yang ingin memantau risiko diabetes secara praktis dan nyaman.
Saat ini, perangkat CGM masih relatif mahal dan membutuhkan pemasangan sensor di bawah kulit.
Oleh karena itu, solusi non-invasif berbasis jam tangan akan menjadi inovasi revolusioner jika dapat memberikan hasil yang akurat.
Cara Kerja Teknologi Sensor Cahaya
Dalam dokumen paten, Garmin menjelaskan pendekatan berbasis cahaya untuk menganalisis perubahan halus pada karakteristik darah di bawah kulit.
Sensor optik akan mengumpulkan data secara terus-menerus, lalu algoritma akan memodelkan data tersebut untuk memperkirakan nilai HbA1c.
Dengan kata lain, jam tangan tidak mengukur kadar glukosa secara langsung. Sebaliknya, perangkat akan menginterpretasikan pola jangka panjang berdasarkan interaksi cahaya dengan jaringan dan darah.
Metode ini dianggap ambisius, karena memerlukan validasi ilmiah yang kuat sebelum dapat digunakan secara luas.
Pendekatan ini juga menunjukkan arah baru dalam wearable kesehatan, yakni penggunaan kecerdasan buatan dan analitik data untuk mengungkap kondisi tubuh tanpa prosedur invasif.





