Strategi Jemput Bola, Dorong Layanan JKN di OKI Lebih Cepat dan Tepat Sasaran

by
Strategi Jemput Bola, Dorong Layanan JKN di OKI Lebih Cepat dan Tepat Sasaran
Strategi Jemput Bola, Dorong Layanan JKN di OKI Lebih Cepat dan Tepat Sasaran

OKI, BAYANAKA.CO – Layanan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) diarahkan untuk semakin responsif melalui strategi jemput bola, mulai dari penguatan pencatatan layanan hingga pemanfaatan telepon dan WhatsApp untuk memantau kondisi pasien secara berkala.

Langkah ini disampaikan dalam Pertemuan Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) dan review utilisasi Triwulan I 2026.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah kendala lapangan diurai sekaligus dicarikan solusi konkret agar pelayanan lebih berdampak bagi peserta JKN.

Dian Anjar Sari dari Puskesmas Muara Burnai mengungkapkan, layanan yang sudah diberikan kerap belum tercatat optimal karena peserta tidak membawa Kartu identitas saat berobat.

BACA JUGA:  Layanan JKN Makin Mudah, Tak Perlu Khawatir Biaya, Warga Sako Ini Sumringah

“Pelayanan sudah kami lakukan, tetapi tidak bisa dientry sebagai kontak sehat atau sakit karena identitas tidak lengkap. Ini berpengaruh pada capaian KBK,” ujarnya.

Menjawab hal tersebut, BPJS Kesehatan menekankan pentingnya pengelolaan data yang lebih aktif dan terarah.

“Petugas bisa memanfaatkan aplikasi P-Care untuk melihat jumlah peserta Prolanis secara real time, lalu langsung ditindaklanjuti. Kontak dengan peserta tidak harus tatap muka, bisa melalui telepon atau WhatsApp, misalnya untuk mengingatkan jadwal obat atau menanyakan kondisi kesehatan,” jelas Edy Surlis, Kepala BPJS Kesehatan Kantor Cabang Palembang.

Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) sendiri merupakan cara pembayaran Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FPKTP) dalam Program JKN yang tidak hanya berdasarkan jumlah peserta terdaftar, tetapi juga mempertimbangkan kinerja pelayanan yang diberikan kepada peserta.

BACA JUGA:  Momentum Hari Kartini, JKN Hadir untuk Kesehatan Perempuan di OKI

Kontak peserta (angka kontak), Rasio rujukan non-spesialistik (RRNS) dan Rasio peserta Prolanis terkontrol (RPPT) menjadi indikator utama dalam penilaian KBK.
Edy juga menambahkan, komunikasi sederhana yang terdokumentasi dan dientry ke sistem tetap dihitung sebagai layanan.

“Ini yang kita dorong, agar peserta tetap terpantau meski tidak selalu datang ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Edy mengingatkan pentingnya persiapan kegiatan di luar gedung. Penanggung jawab kegiatan diminta memastikan peserta membawa identitas seperti KTP atau KK agar layanan yang diberikan dapat langsung tercatat dalam sistem.

Di sisi lain, dr Eka Sutriama memberikan sharing terkait capaian KBK. Ia menyampaikan bahwa komunikasi aktif menjadi kunci menjaga keterkendalian pasien.

BACA JUGA:  Liburan Tanpa Ribet! Kartu Debit Visa Bank Sumsel Babel Bikin Transaksi Traveling Makin Mudah

“Peserta yang sudah lama terdaftar kami hubungi rutin melalui telepon atau WhatsApp. Bahkan, konsultasi bisa dilakukan kapan saja, sehingga kondisi pasien tetap terpantau,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *