Peran Masyarakat Tetap Krusial
Meski teknologi menjadi andalan, Pemkot Palembang menekankan bahwa partisipasi masyarakat tetap menjadi kunci utama.
Warga didorong menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Tanpa dukungan masyarakat, kapasitas PLTSa berisiko tidak optimal.
Program “Satu Kelurahan Satu Bank Sampah” menjadi strategi pendukung. Saat ini telah terbentuk 96 bank sampah dari total 107 kelurahan di Palembang.
Setiap bank sampah rata-rata mampu mengurangi 0,5 hingga 1 ton sampah per hari. Secara kumulatif, kontribusinya mencapai sekitar 50–100 ton per hari atau setara 4–8 persen dari total produksi sampah harian.
“Ini cukup signifikan sekaligus menjadi penggerak ekonomi kerakyatan,” jelas Dewa.
Skema Pengolahan di PLTSa Keramasan
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang Akhmad Mustain menjelaskan mekanisme pengolahan di fasilitas PLTSa Keramasan.
Sampah yang masuk akan ditampung di bunker selama tujuh hari sebelum diproses melalui sistem pembakaran (combustion). Insinerator menjadi komponen kunci dalam proses ini.
Skemanya, sampah dibakar pada suhu tinggi untuk menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian digunakan memutar turbin sehingga menghasilkan energi listrik.
Pasokan Listrik untuk Palembang
Secara garis besar, PLTSa Keramasan diproyeksikan menghasilkan listrik 20 MW. Dari jumlah tersebut, sekitar 17,7 MW akan disalurkan ke jaringan **PLN**.
“Kita berharap ini memperkuat backbone listrik Palembang yang terus tumbuh dan membutuhkan tambahan pasokan energi,” ujar Mustain.
Dengan produksi sampah harian mencapai 1.200–1.500 ton, keberadaan PLTSa menjadi solusi strategis untuk mengurangi beban TPA sekaligus menyediakan energi alternatif.
Menuju Kota Lebih Bersih dan Berkelanjutan
Melalui proyek PLTSa, Pemerintah Kota Palembang menargetkan transformasi besar dalam sistem pengelolaan sampah.
Tidak hanya mengurangi timbunan, tetapi juga mengubah limbah menjadi sumber energi bernilai ekonomi.
Keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: kesiapan infrastruktur, kecukupan armada pengangkut, serta partisipasi aktif masyarakat.
Jika seluruh komponen berjalan selaras, PLTSa Palembang berpotensi menjadi model pengelolaan sampah modern di Indonesia sekaligus mendorong terwujudnya kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.





