Zaman sekarang, hidup kok rasanya “berisik” sekali ya? Semua orang seperti dikejar setoran. Mau melangkah harus ada target, buka HP harus ada notifikasi penting, bahkan ketemu kawan pun kalau nggak bahas bisnis atau politik, rasanya seperti berdosa karena dianggap buang-buang waktu.
Kadang kita terlalu sibuk bahas target sampai lupa caranya ketawa. Padahal, ngobrol hal-hal “enggak penting” itu adalah pelumas biar hidup enggak gampang karatan.
Kadang, hal paling berharga dalam hidup justru lahir dari obrolan yang paling tidak berharga.
Menemukan Indonesia di Sela Tawa
Nenek moyang kita itu jenius. Mereka tahu kalau persatuan enggak cuma lahir dari meja rapat yang kaku, tapi justru dari kepulan asap kopi dan obrolan “ngalor-ngidul”. Di tiap jengkal tanah Nusantara, kita punya “lembaga” ngobrol enggak penting yang sangat sakral. Di balik obrolan remeh itu, sebenarnya ada persaudaraan yang sedang dikokohkan.
Di Jawa, kita punya Cangkrukan. Duduk melingkar di atas lincak bambu, melepaskan sekat kasta untuk merawat kewarasan. Geser ke Palembang, ada budaya Kelakar, seni bercanda yang “lemak nyambung” karena sebelum bahas urusan besar, hati harus dibuat senang dulu lewat guyonan yang renyah.
Di Minangkabau, ada Maota di lapau-lapau sebagai perekat sosial. Belum lagi di Sulawesi dengan Mappadendang yang intinya adalah sipakatau (saling memanusiakan), atau di Bali dengan budaya Mebat, memasak bersama sambil berbagi cerita remeh yang bikin ikatan batin makin kencang.
Pelumas Jiwa yang Haus
Obrolan berat itu ibarat mesin yang dipaksa kerja terus-menerus. Kalau enggak dikasih pelumas, ya macet dan panas. Saat kita berdebat soal “Kenapa kucing sekarang lebih suka makan gorengan?” atau “yang mana lebih dulu, Telur atau Ayam?”, sebenarnya kita sedang melepas topeng jabatan dan gelar.
Dan semua jenis kepenatan di pikiran.
Di situlah letak kemewahannya. kebahagiaan enggak selalu datang dari rencana besar, tapi dari kenyamanan saat kita berani jadi “enggak penting” di depan sahabat. Kita sedang bilang, “Aku nyaman di dekatmu tanpa perlu jadi orang hebat.” Persaudaraan itu bukan soal seberapa banyak masalah yang kita selesaikan bersama, tapi seberapa banyak kenyamanan yang kita bagi tanpa alasan.
Merawat Kewarasan dengan Ngalor-Ngidul
Tentang kopi hitam, tawa lepas, dan obrolan tanpa arah; mari kita kembali membumi. Jangan merasa bersalah untuk sesekali “membuang waktu” dengan bercanda. Karena dalam tiap tawa yang meledak itu, ada jiwa yang sedang beristirahat dan ada persahabatan yang sedang dirawat.


