PALEMBANG, BAYANAKA.CO – Kakanwil Kemenag Sumsel Syafitri Irwan menyampaikan tausiyah Ramadan di Masjid Agung Palembang, menegaskan Ramadan sebagai madrasah taqwa pembentuk karakter Muslim sejati.
Syafitri Irwan mengibaratkan Ramadan sebagai sebuah madrasah atau sekolah kehidupan.
Dalam pandangannya, Ramadan memiliki semua unsur pendidikan yang lengkap, mulai dari tujuan, proses, hingga hasil akhir.
Ia menjelaskan, tujuan utama dari ibadah puasa adalah mencapai derajat taqwa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183.
Selain itu, Ramadan juga menjadi sarana latihan untuk membentuk karakter Muslim yang kuat.
Selama sebulan penuh, umat Islam dilatih untuk Mengendalikan hawa nafsu, Melatih kesabaran dalam berbagai kondisi, Meningkatkan empati sosial kepada sesama dan Memperbanyak ibadah dan amal shalih.
“Taqwa adalah kesadaran penuh bahwa Allah selalu melihat kita. Bukan sekadar rasa takut, tetapi cinta dan ketaatan yang lahir dari hati yang sadar,” ujar Syafitri di hadapan jamaah.
Menurutnya, Ramadan juga merupakan masa ujian bagi umat Muslim. Konsistensi dalam menjalankan ibadah, menjaga lisan, serta menahan diri dari perbuatan buruk menjadi indikator keberhasilan dalam madrasah Ramadan.
Jika berhasil, maka seorang Muslim akan keluar dari Ramadan sebagai pribadi yang lebih bersih, tenang, dan semakin dekat dengan Allah SWT.
Memahami Perbedaan Shaum dan Shiyam dalam Islam
Dalam tausiyah tersebut, Syafitri juga menjelaskan perbedaan istilah Shaum dan Shiyam yang sering digunakan dalam Al-Qur’an.
Ia menjelaskan bahwa Shaum memiliki makna yang lebih luas, yaitu menahan diri secara umum, baik dari perkataan maupun perbuatan.
Contohnya adalah shaum yang dilakukan oleh Siti Maryam, yaitu menahan diri dari berbicara.
Sementara itu, Shiyam memiliki makna yang lebih khusus, yaitu ibadah puasa wajib yang dilaksanakan pada bulan Ramadan sesuai dengan syariat Islam.
Pemahaman ini penting agar umat Islam tidak hanya menjalankan puasa secara fisik, tetapi juga secara spiritual, termasuk menjaga lisan, sikap, dan perbuatan.
Dengan demikian, puasa tidak hanya bernilai ibadah formal, tetapi juga mampu membentuk akhlak yang lebih baik.
Ramadan Momentum Transformasi Spiritual
Menjelang akhir tausiyahnya, Syafitri Irwan mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam menjalankan ibadah puasa.
Ia menegaskan bahwa keikhlasan menjadi kunci utama agar Ramadan memberikan dampak perubahan nyata dalam kehidupan seseorang.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum transformasi spiritual.
“Ramadan adalah momentum transformasi. Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan keluar sebagai pribadi bertaqwa. Siapa yang lalai, ia akan keluar tanpa perubahan,” tegasnya.
Ia juga mengajak umat Islam untuk mempersiapkan diri secara menyeluruh, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.





