Ia menegaskan bahwa diplomasi melalui tilawah bukan hanya soal perlombaan, tetapi juga citra bangsa.
“Melalui suara dan lagu Al-Qur’an, Indonesia tidak hanya tampil sebagai peserta, tetapi sebagai rujukan dunia,” tegasnya.
Sinergi Kemenag dan Pemerintah Daerah
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan, Syafitri Irwan, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Direktur Penais dan seluruh elemen pemerintahan daerah.
Menurut Syafitri, keberhasilan pembinaan keagamaan di Sumatera Selatan tidak terlepas dari kolaborasi solid antara pemerintah daerah, LPTQ, dan Kementerian Agama.
“Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas sinergi antara Pemerintah Provinsi, LPTQ, dan Kementerian Agama. Kerja sama ini adalah kunci utama dalam mensyiarkan Al-Qur’an dan mencetak generasi Qur’ani berprestasi,” ujarnya.
Acara haflah berlangsung khidmat dengan dihadiri sejumlah pejabat penting, termasuk Kepala Biro Kesra Pemprov Sumsel Sunarto, Ketua Baznas Sumsel Darami, Ketua LPTQ Sumsel Ahmad Iskandar Zulkarnaen, serta jajaran pejabat Kemenag kabupaten/kota di Sumatera Selatan.
Diplomasi Keagamaan sebagai Soft Power Indonesia
Diplomasi Keagamaan Indonesia kini terbukti menjadi salah satu soft power paling efektif di panggung global.
Ketika isu politik dan ekonomi sering mengalami ketegangan, pendekatan berbasis nilai spiritual dan budaya justru menghadirkan simpati serta penghormatan.
Keunggulan dalam seni tilawah Al-Qur’an menjadi bukti bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tetapi juga pusat inovasi estetika bacaan Al-Qur’an yang diakui internasional.
Dengan sinergi kuat antara Kementerian Agama, pemerintah daerah, dan LPTQ, harapan untuk mempertahankan dominasi Indonesia di ajang MTQ internasional semakin terbuka lebar.
Diplomasi Keagamaan Indonesia pun tidak sekadar slogan, melainkan fakta nyata yang terus mengharumkan nama bangsa di mata dunia.





