PALEMANG, BAYANAKA.CO – Kabar duka menyelimuti masyarakat Sumatera SelatanSumatera Selatan.
Cahaya lampu rumah di Jalan Merdeka, kawasan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang, tampak lebih terang dari biasanya pada Rabu malam (25/2/2026).
Di balik pintu yang terbuka lebar, suasana haru menyelimuti kediaman almarhum Alex Noerdin, mantan Gubernur Sumatera Selatan dua periode.
Suasana rumah duka dipenuhi lantunan Surah Yasin dan doa bersama yang menggema penuh kekhusyukan.
Bacaan ayat suci Al-Qur’an itu mengiringi kepergian tokoh penting yang pernah memimpin Sumatera Selatan dan menjadi bagian dari perjalanan pembangunan daerah.
Ratusan Pelayat Padati Rumah Duka
Sejak selepas waktu Magrib, ratusan pelayat mulai berdatangan tanpa henti.
Warga dari berbagai penjuru Palembang, tokoh masyarakat, pejabat daerah, hingga sahabat lama almarhum memadati rumah duka.
Sebagian pelayat tampak berdiri dengan khusyuk di teras rumah, sementara lainnya duduk bersila di ruang tamu dan halaman.
Mereka larut dalam doa dan bacaan Al-Qur’an, menciptakan suasana penuh ketenangan dan penghormatan terakhir.
Kehadiran para pelayat menjadi bukti nyata besarnya penghormatan masyarakat terhadap sosok yang selama ini dikenal luas sebagai pemimpin dan tokoh pembangunan Sumatera Selatan.
Doa Bersama Dipimpin Ustaz Hendra
Rangkaian doa bersama dipimpin oleh Ustaz Hendra. Dalam tausiyah singkatnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk mengikhlaskan kepergian almarhum dan mendoakan agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Semoga almarhum husnul khatimah, segala amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta ketabahan,” ucapnya.
Ucapan tersebut diamini para pelayat dengan suara lirih, menambah suasana haru di rumah duka.
Doa bersama ini menjadi momen refleksi bagi masyarakat yang hadir, mengenang jasa dan kontribusi almarhum selama memimpin Sumatera Selatan.
Karangan Bunga Penuhi Jalan Sekitar Rumah Duka
Di sepanjang jalan sekitar rumah duka, karangan bunga ucapan belasungkawa berjajar rapi.
Rangkaian bunga tersebut datang dari berbagai kalangan, mulai dari instansi pemerintahan, organisasi, hingga sahabat pribadi.
Karangan bunga itu menjadi simbol penghormatan dan rasa kehilangan atas wafatnya sosok yang pernah memimpin Sumatera Selatan selama dua periode.
Tulisan belasungkawa yang terpampang di setiap karangan bunga mencerminkan duka mendalam dari berbagai pihak.
Tangis Haru dan Kenangan Masyarakat
Beberapa pelayat terlihat tak kuasa menahan air mata saat bersalaman dengan keluarga almarhum.





