BAYANAKA.CO – Menteri Agama mengajak umat Islam menjadikan Ramadan 1447 H sebagai momentum memperkuat kesalehan sosial, solidaritas, dan harmoni kebangsaan di Indonesia.
Menteri Agama Republik Indonesia mengajak seluruh umat Islam menjadikan Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi sebagai momentum memperkuat kesalehan sosial dan harmoni kebangsaan.
Bulan suci Ramadan diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas ibadah personal, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan persaudaraan antar sesama anak bangsa.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan tersebut di Jakarta pada Rabu (18/2/2026).
Ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum penting untuk membangun kepedulian sosial dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa.
Ramadan Bukan Sekadar Ibadah Individual
Menurut Menteri Agama, Ramadan bukan hanya sekadar menjalankan ibadah puasa secara individual.
Lebih dari itu, Ramadan adalah madrasah ruhani yang mendidik umat Islam menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama.
“Ramadan adalah momentum untuk memperkuat kesalehan sosial dan merawat harmoni kebangsaan. Ia bukan sekadar ibadah individual, tetapi madrasah ruhani yang membentuk kepedulian, empati, dan tanggung jawab kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” ujarnya.
Nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa mengajarkan umat Islam untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan hidup secara seimbang.
Hal ini menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang adil dan berkelanjutan.
Puasa Mengajarkan Pengendalian Diri dan Keseimbangan Hidup
Puasa Ramadan mengandung makna mendalam tentang pentingnya pengendalian diri.
Dengan menahan lapar, haus, dan emosi, umat Islam dilatih untuk memahami arti kesederhanaan dan empati terhadap sesama.
Menteri Agama menjelaskan bahwa nilai pengendalian diri sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang tidak eksploitatif dan lebih berkeadilan.
“Ramadan mendidik kita bahwa hidup bukan tentang memuaskan segala keinginan, tetapi tentang kesadaran untuk hidup secara seimbang. Pengendalian diri inilah fondasi bagi keberlanjutan kita sebagai bangsa yang bermartabat,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengendalian diri yang dilatih selama Ramadan diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat.
Perbedaan Awal Ramadan Harus Disikapi dengan Bijak
Terkait adanya perbedaan dalam penetapan awal Ramadan, Menteri Agama mengajak masyarakat untuk menyikapinya dengan kedewasaan dan sikap saling menghormati.





