UMKM Binaan PHE Jambi Merang Raup Untung Ramadan, Mocaf Rp34 Ribu per Kg Jadi Alternatif Tepung Impor

by
by
Aktivitas anggota KWT Embun Pagi mengolah singkong menjadi tepung mocaf di Desa Simpang Bayat, binaan PHE Jambi Merang.
Aktivitas anggota KWT Embun Pagi mengolah singkong menjadi tepung mocaf di Desa Simpang Bayat, binaan PHE Jambi Merang.

BAYANAKA.CO – Menjelang azan Magrib, dapur-dapur di Desa Simpang Bayat yang berada di sekitar wilayah operasi PHE Jambi Merang mulai sibuk.

Aroma cendol dawet yang manis berpadu dengan gurihnya cuko pempek memenuhi udara sore Ramadan.

Tak banyak yang tahu, sebagian sajian berbuka puasa itu kini dibuat dari tepung mocaf—tepung berbahan dasar singkong yang diolah langsung oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi.

KWT Embun Pagi merupakan kelompok binaan PHE Jambi Merang yang berada di Dusun Selaro, Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

BACA JUGA:  Speed Boat Tenggelam di Banyuasin, 1 Penumpang Meninggal Dunia Akibat Ombak Besar

Selama ini, warga setempat sangat akrab dengan tanaman singkong yang tumbuh di kebun maupun pekarangan rumah.

Produk tepung mocaf kemasan hasil produksi KWT Embun Pagi yang dipasarkan hingga ajang Sriwijaya Expo di Palembang.
Produk tepung mocaf kemasan hasil produksi KWT Embun Pagi yang dipasarkan hingga ajang Sriwijaya Expo di Palembang.

Namun, melimpahnya hasil panen tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan. Harga singkong mentah hanya berkisar Rp2.000 per kilogram.

Nilai tersebut tentu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga jika hanya mengandalkan penjualan hasil panen tanpa proses lanjutan.

Dari Singkong Murah Menjadi Mocaf Bernilai Tinggi

Perubahan mulai terasa ketika KWT Embun Pagi mendapatkan pendampingan intensif dalam pengembangan produk mocaf.

BACA JUGA:  Tugboat TB Bojoma 3003 Serempet Jembatan Lalan, Tiang Penyangga Roboh ke Sungai

Produksi yang sebelumnya masih sederhana diperkuat dari sisi kualitas, standarisasi proses, hingga kemasan dan strategi pemasaran.

Melalui tahapan fermentasi, pengeringan, dan penggilingan yang lebih terstruktur, singkong kini diolah menjadi tepung mocaf berkualitas.

Hasilnya signifikan. Jika singkong mentah dihargai Rp2.000 per kilogram, maka tepung mocaf hasil olahan bisa dijual hingga Rp34.000 per kilogram.

Lonjakan nilai ini menunjukkan pentingnya hilirisasi produk pertanian desa. Produk sampingan pun ikut berkembang, seperti eyek-eyek—kudapan renyah berbahan dasar singkong yang semakin diminati sebagai camilan ringan.

BACA JUGA:  Aksi Sosial Ramadan 2026! POBSI Sumsel Bagikan 1.000 Takjil, Pererat Kebersamaan dengan Warga

Kemasan produk kini tampil lebih profesional dengan label resmi, sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas jangkauan pasar.

Promosi hingga Pameran Provinsi

Tak hanya berhenti pada produksi, dukungan promosi juga diberikan secara aktif. Produk tepung mocaf Desa Simpang Bayat kerap diikutsertakan dalam berbagai pameran tingkat kabupaten hingga provinsi. Salah satunya di ajang Sriwijaya Expo di Palembang.

Melalui pameran tersebut, masyarakat semakin mengenal mocaf sebagai alternatif tepung non-terigu yang berkualitas. Exposure ini membuka peluang kemitraan baru sekaligus memperluas pasar di luar desa.

Alternatif Tepung Sehat dan Bebas Gluten

Di bulan Ramadan, konsumsi makanan berbasis tepung meningkat tajam. Tepung mocaf menjadi alternatif menarik karena memiliki sejumlah keunggulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *