UMKM Binaan PHE Jambi Merang Raup Untung Ramadan, Mocaf Rp34 Ribu per Kg Jadi Alternatif Tepung Impor

by
by
Aktivitas anggota KWT Embun Pagi mengolah singkong menjadi tepung mocaf di Desa Simpang Bayat, binaan PHE Jambi Merang.
Aktivitas anggota KWT Embun Pagi mengolah singkong menjadi tepung mocaf di Desa Simpang Bayat, binaan PHE Jambi Merang.
BACA JUGA:  Terungkap! Dugaan Penyalahgunaan Combine Harvester Bantuan Pemerintah di OKI, Siapa Diuntungkan?

Secara nutrisi, mocaf tetap menjadi sumber karbohidrat seperti terigu, tetapi bebas gluten dan cenderung lebih mudah dicerna.

Saat berpuasa, lambung yang kosong seharian membutuhkan asupan yang tidak terlalu berat. Tekstur mocaf yang lebih ringan dinilai lebih ramah di sistem pencernaan bagi sebagian orang.

Untuk takjil, mocaf dapat diolah menjadi bakwan, pisang goreng, hingga cendol. Sementara untuk menu berbuka, tepung ini cocok untuk brownies kukus, bolu pandan, dan kue lapis. Bahkan menjelang Lebaran, mocaf dipakai untuk membuat nastar, kastengel, dan putri salju dengan tekstur yang tetap lembut.

Kurangi Ketergantungan Gandum Impor

Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa pengembangan mocaf bukan sekadar program ekonomi, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan lokal.

BACA JUGA:  Kapolda Sumsel Silaturahmi dengan Warga Banyuasin, Tegaskan Kolaborasi Jaga Kamtibmas

Tepung terigu selama ini masih bergantung pada gandum impor. Dengan memaksimalkan singkong lokal sebagai bahan baku mocaf, rantai produksi menjadi lebih dekat dan biaya lebih terkendali.

Program pemberdayaan ini dirancang agar manfaatnya berkelanjutan. Para ibu rumah tangga memiliki kesempatan terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi produktif, sementara masyarakat desa memperoleh sumber pendapatan tambahan.

Dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan kelompok, tetapi juga pada terbentuknya ekosistem usaha mikro yang mandiri dan tangguh.

Mocaf, Simbol Kemandirian Desa

Di bulan yang penuh makna berbagi, kenyalnya cendol dan gurihnya pempek berbahan mocaf menjadi simbol perubahan. Dari singkong yang dulu dianggap biasa, kini lahir produk bernilai ekonomi tinggi yang menguatkan ekonomi keluarga.

BACA JUGA:  TMMD ke-127 Resmi Ditutup di Banyuasin, TNI Percepat Pembangunan Desa dan Infrastruktur

Keberhasilan tepung mocaf Desa Simpang Bayat menunjukkan bahwa potensi lokal, jika dikelola dengan pendampingan yang tepat, mampu menciptakan nilai tambah signifikan. Ramadan pun bukan sekadar momentum spiritual, tetapi juga momentum kebangkitan ekonomi desa.

Tepung mocaf Desa Simpang Bayat kini bukan hanya alternatif terigu, melainkan representasi kemandirian pangan dan pemberdayaan perempuan desa yang patut diapresiasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *