Dalam konteks era kecerdasan buatan, Menag menilai tantangan utama bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada bagaimana menjaga sisi kemanusiaan manusia. Dunia, kata dia, tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, tetapi juga profesi yang beretika dan memiliki nurani.
“Peran agama hari ini adalah menjadi kompas moral bagi kemajuan, penjamin martabat manusia, serta penjaga makna kerja dan profesi dalam dunia yang bergerak cepat,” ungkapnya.
Menag juga memaparkan langkah Indonesia dalam menghadapi tantangan tersebut, antara lain dengan mengaitkan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional dan memperkuat etika kerja di berbagai lembaga.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan, sehebat apa pun kemampuannya, tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, dan otoritas etika.
“Kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sumber mandiri apalagi pengganti fatwa atau bimbingan keagamaan,” tegasnya.
Menutup pidatonya, Menag mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan nilai-nilai yang menuntun kepintaran tersebut.
“Dunia tidak hanya memerlukan akal yang maju, tetapi juga akhlak yang kokoh dan tanggung jawab peradaban,” pungkasnya.





