Batu tersebut menjalar dari kaki ke pinggul hingga akhirnya seluruh tubuhnya membatu. Tangisannya yang penuh penyesalan dipercaya menjadi asal mula nama Batu Menangis.
Legenda ini dipercaya sebagai pengingat bagi masyarakat agar selalu menghormati orang tua dan tidak terbuai oleh kecantikan fisik semata. Kecantikan tanpa akhlak dan rasa hormat justru akan membawa kehancuran.
Menariknya, cerita rakyat Batu Menangis tidak hanya hidup dalam tradisi lisan. Legenda ini pernah diadaptasi ke dalam bentuk seni pertunjukan melalui Drama Tari Batu Menangis yang dipentaskan oleh Bakti Budaya Djarum Foundation pada tahun 2018.
Pementasan tersebut digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, serta dipentaskan di luar negeri seperti Filipina dan India, memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke kancah internasional.
Hingga kini, legenda Batu Menangis tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Kalimantan Barat yang mengajarkan nilai moral tentang kasih sayang, pengorbanan, dan pentingnya berbakti kepada orang tua.





