BAYANAKA.CO – Kota Surabaya dikenal luas sebagai Kota Pahlawan, sebuah julukan yang lahir dari semangat juang rakyatnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Namun, jauh sebelum peristiwa heroik 10 November 1945, Surabaya telah memiliki sejarah panjang yang berakar dari legenda, perdagangan, hingga kekuasaan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.
Legenda Sura dan Baya
Asal-usul nama Surabaya tidak dapat dilepaskan dari legenda pertarungan antara ikan hiu (sura) dan buaya (baya). Kisah ini mengisahkan perkelahian sengit antara dua hewan kuat yang memperebutkan wilayah kekuasaan.
Pertarungan tersebut dipercaya terjadi di muara Sungai Brantas, wilayah yang kini menjadi pusat Kota Surabaya. Dari cerita inilah kemudian muncul nama “Sura-baya” yang dimaknai sebagai keberanian menghadapi bahaya.
Legenda ini bukan sekadar cerita rakyat, tetapi juga menjadi simbol karakter masyarakat Surabaya yang dikenal berani, tangguh, dan pantang menyerah. Hingga kini, ikon patung Sura dan Baya masih berdiri megah sebagai lambang kota.
Jejak Sejarah Tertua Surabaya
Secara historis, nama Surabaya tercatat dalam Prasasti Trowulan I yang berasal dari tahun 1358 Masehi pada masa Kerajaan Majapahit. Dalam prasasti tersebut, Surabaya disebut sebagai salah satu wilayah penting yang berfungsi sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan.
Letaknya yang strategis di tepi laut dan muara sungai besar menjadikan Surabaya sebagai jalur vital distribusi barang.
Bahkan, beberapa sejarawan meyakini bahwa Surabaya telah eksis jauh sebelum era Majapahit. Wilayah ini diduga telah menjadi permukiman sejak abad ke-10 dan berkembang pesat seiring meningkatnya aktivitas perdagangan antarwilayah di Jawa dan luar pulau.
Peran Surabaya di Masa Kerajaan
Pada masa Kerajaan Majapahit, Surabaya berperan sebagai daerah penyangga sekaligus pelabuhan penting. Kota ini menjadi pintu masuk bagi pedagang dari berbagai daerah, termasuk dari Tiongkok, India, dan wilayah Nusantara lainnya.
Aktivitas perdagangan ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan budaya masyarakat setempat.
Setelah runtuhnya Majapahit, Surabaya tetap menjadi wilayah strategis dan diperebutkan oleh berbagai kekuatan, termasuk Kesultanan Demak dan Mataram. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya posisi Surabaya dalam peta politik dan ekonomi Jawa.
Surabaya di Masa Kolonial
Memasuki era kolonial, Surabaya berkembang pesat di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Kota ini menjadi pusat industri, pelabuhan utama, serta basis militer.
Infrastruktur modern mulai dibangun, seperti jalan, rel kereta api, dan pelabuhan Tanjung Perak yang hingga kini menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia.





