Kepalan Tangan Kiri dan Darah Juang Menggema di Pemakaman Tumpal Simaremare, Selamat Jalan Sahabat!

by
Kepalan Tangan Kiri dan Darah Juang Menggema di Pemakaman Tumpal Simaremare, Selamata Jalan Sahabat!
Kepalan Tangan Kiri dan Darah Juang Menggema di Pemakaman Tumpal Simaremare, Selamata Jalan Sahabat!. Foto: dokumen/bayanaka.co

PALEMBANG, BAYANAKA.CO – Suasana hening bercampur isak tangis menyelimuti Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebun Bunga, Palembang, Senin 22 Desember 2025, saat jenazah Tumpal Simaremare, pejuang Reformasi 1998, dimakamkan.

Prosesi pemakaman berlangsung khidmat, penuh haru, dan sarat simbol perjuangan yang selama hidupnya tak pernah ia tinggalkan.

Sebelum dimakamkan, jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Ali Gatmir, Lorong Tapak Ning, Kelurahan 10 Ilir, Palembang.

Tangis keluarga pecah saat jenazah dilepas menuju peristirahatan terakhir.

BACA JUGA:  Ramadan Penuh Berkah! Sekda Sumsel dan Forkopimda Perkuat Sinergi Pembangunan Daerah

Wajah-wajah para sahabat dan rekan seperjuangan tampak menahan duka, seolah belum siap melepas sosok yang selama ini menjadi penopang moral gerakan.

Puluhan karangan bunga memenuhi area rumah duka hingga pemakaman, datang dari berbagai tokoh, organisasi, dan elemen masyarakat.

Sejumlah pejabat turut hadir dalam prosesi pelepasan jenazah dari rumah duka, diantaranya Wali Kota Palembang, H. Ratu Dewa, Anggota DPR RI, Yudha Novanza Utama, Ketua DPRD Provinsi Sumsel, Andie Dinialdie, Anggota DPRD Sumsel, Abdullah Taufik, Ketua Komisi III DPRD Kota Palembang, Rubi Indiarta,

Tenaga Ahli DPRD Sumsel, Ing Suardi, mantan Anggota KPU Sumsel, Rudianto Pangaribuan, Ustd Deny Tegar, Dedek Chaniago, Syafran Syarofi, jajaran direksi PT ONB, Jajaran Kepengurusan Gencar Indonesia, perwakilan Pengurus DPW Horas Bangso Batak (HBB) Sumsel, Lintas Aktivis Antar Gerenasi Indonesia (LAAGI), DPW HIMPKA Sumsel dan sejumlah aktivis Reformasi 98, tokoh pergerakan, pemuda dan mahasiswa.

BACA JUGA:  Pemkot Palembang Terima 30 Sertifikat Elektronik Aset dari BPN

Bahkan ada sebagian dari para tokoh dan pejabat tersebut ikut mengantar almarhum hingga ke liang lahat, sebagai bentuk penghormatan terakhir atas dedikasi dan keteladanan yang ditinggalkannya.

Dalam prosesi pengantaran ke liang lahat, rombongan dikawal dan diiringi oleh URC DPD ADO Sumsel. Momen paling menggetarkan terjadi setelah prosesi pemakaman usai.

Sejumlah rekan seperjuangan berdiri mengelilingi pusara, lalu serempak mengepalkan tangan kiri ke udara, simbol perlawanan dan solidaritas yang identik dengan perjuangan Reformasi.

Dari kepalan tangan itu, mengalun lagu “Darah Juang”, dinyanyikan dengan suara bergetar dan tertahan oleh tangis.

BACA JUGA:  Mitra Strategis Polri, Ribuan Satpam di Palembang Ikuti Apel Konsolidasi di Polda Sumsel

Lagu perjuangan tersebut menggambarkan ironi negeri yang kaya dan subur, namun masih menyisakan ketidakadilan: anak buruh yang tak bersekolah, pemuda desa tanpa pekerjaan, rakyat yang haknya dirampas, tergusur, dan hidup dalam lapar. Bait demi baitnya menjelma doa, kesaksian, sekaligus janji untuk melanjutkan perjuangan yang selama ini diperjuangkan almarhum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *