Fahri menjelaskan bahwa pengembangan hunian di sekitar simpul transportasi seperti bandara merupakan strategi penting dalam penataan kota modern.
Selain meningkatkan efisiensi mobilitas, konsep ini juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi dan mengarahkan pertumbuhan kota agar lebih tertata.
“Lahan untuk perumahan pegawai bandara ini sangat strategis. Dengan perencanaan yang matang, kawasan ini dapat berkembang menjadi klaster hunian yang terintegrasi dengan aktivitas bandara dan kawasan sekitarnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fahri juga menekankan pentingnya penguatan citra dan branding daerah sebagai bagian dari pembangunan.
Menurutnya, infrastruktur yang baik dan kawasan hunian yang tertata akan meningkatkan daya saing daerah dalam menarik investasi dan kunjungan.
“Kita harus memperkuat branding Sumatera Selatan sebagai daerah yang layak dan wajib dikunjungi. Dengan infrastruktur yang baik dan kawasan hunian yang tertata, Sumsel akan semakin kompetitif dan maju,” tambahnya.
Sementara itu, Asisten III Bidang Pemerintahan Setda Kota Palembang, Akhmad Bastari Yusak, menyambut baik perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan kawasan permukiman di Palembang.
Ia menilai sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota menjadi kunci utama percepatan pembangunan perumahan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami mendukung penuh langkah strategis ini. Dengan kolaborasi lintas tingkat pemerintahan, pengembangan kawasan hunian di Palembang dapat berjalan lebih cepat, tepat sasaran, dan selaras dengan rencana tata ruang wilayah,” ujarnya.
Kunjungan kerja tersebut ditutup dengan pengantaran Wakil Menteri PKP kembali ke Bandara SMB II Palembang.
Agenda ini menjadi penanda komitmen bersama dalam mempercepat realisasi pengembangan kawasan hunian strategis di Bumi Sriwijaya, sekaligus memperkuat posisi Palembang sebagai salah satu kota prioritas dalam peta pembangunan perumahan nasional.





