Mitos yang paling populer adalah pertempuran antara ikan sura (hiu) dan baya (buaya), yang hingga kini menjadi ikon kota. Selain itu, terdapat pula pendapat yang mengaitkan nama Surabaya dengan tokoh Suropati dan Purbaya.
Bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya telah ada sejak abad ke-13. Prasasti Trowulan I bertahun 1358 M menyebut Surabaya sebagai desa di tepi Sungai Brantas yang berfungsi sebagai tempat penyeberangan penting.
Nama Surabaya juga tercantum dalam Kakawin Nagarakretagama karya Empu Prapañca yang ditulis pada tahun 1365 M.
Hari jadi Kota Surabaya ditetapkan pada 31 Mei 1293, bertepatan dengan kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya atas pasukan Mongol. Kemenangan tersebut dimaknai sebagai keberanian menghadapi ancaman, yang kemudian melekat dalam identitas Surabaya hingga kini.
Pada abad ke-15, Islam mulai berkembang pesat di Surabaya dengan berdirinya Masjid dan Pesantren Ampel oleh Sunan Ampel. Seiring waktu, Surabaya mengalami berbagai fase kekuasaan, mulai dari Kesultanan Demak, Mataram Islam, VOC, hingga masa Hindia Belanda.
Pada tahun 1926, Surabaya resmi ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur dan terus berkembang menjadi kota modern hingga sekarang.
Dengan sejarah panjang, peran strategis, serta semangat kepahlawanan yang kuat, Surabaya tidak hanya menjadi simbol perjuangan bangsa, tetapi juga motor penggerak pembangunan di kawasan Indonesia timur.





