BAYANAKA.CO – Istilah “No Viral, No Justice” tampaknya menjadi kalimat paling relevan untuk menggambarkan realitas penanganan persoalan publik di pelosok Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Setelah gelombang keresahan mencuat di media sosial dan pemberitaan media massa, keberadaan Tangki IBC serta puluhan jerigen berisi ribuan liter solar di halaman SD Belanti, Kecamatan Pedamaran, akhirnya ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.
Material bahan bakar minyak (BBM) yang sebelumnya berada tepat di depan pintu ruang kelas itu kini resmi digeser.
Meski pemindahan baru sebatas menjauhkan titik koordinat dari ruang belajar dan belum sepenuhnya keluar dari lingkungan sekolah, langkah ini setidaknya memberi napas lega bagi siswa dan tenaga pendidik. Aroma solar yang sebelumnya menyengat dan mengganggu aktivitas belajar mengajar kini mulai berkurang.
Keberadaan ribuan liter solar di sekolah dasar yang bangunannya mayoritas berbahan kayu itu sempat memicu kekhawatiran serius. Selain mengganggu kenyamanan, potensi kebakaran dan ledakan menjadi ancaman nyata bagi keselamatan siswa yang jumlahnya kurang dari 30 orang.
Camat Pedamaran, Yusnursal, menyampaikan penyesalannya atas kejadian tersebut. Sebagai camat muda yang dikenal responsif, ia menegaskan tidak ingin persoalan ini berlarut-larut. Menurutnya, begitu isu tersebut viral dan menjadi sorotan publik, pihak kecamatan langsung bergerak cepat.
“Kami mengetahui ada proyek cetak sawah, namun tidak pernah menerima laporan rinci terkait penempatan solar di SD Belanti. Begitu informasi ini mencuat di media, kami langsung turun ke lapangan bersama Kapolsek dan Danramil untuk memastikan BBM tersebut tidak lagi mengancam kenyamanan dan keselamatan sekolah,” tegas Yusnursal, Jumat (30/01).
Senada dengan camat, Danramil 402-02/Pedamaran, Kapten Inf Jefri Gunawan, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp menjelaskan bahwa pihaknya telah berupaya mencari solusi terbaik.
Ia mengungkapkan bahwa kendala geografis, akses yang sulit, serta kondisi banjir di wilayah perairan menjadi alasan pihak pemborong sempat kesulitan mencari lokasi alternatif penyimpanan.
“Untuk sementara, solar dipindahkan ke sisi terjauh dari bangunan sekolah sambil menunggu lokasi mess atau tempat penyimpanan yang lebih representatif dan aman,” jelas Jefri.
Namun, di balik langkah pemindahan tersebut, muncul sorotan tajam dari kalangan aktivis. Aktivis muda asal Kota Tikar, Karel, mengaku prihatin terhadap sejumlah narasi media lokal mainstream yang dinilainya menyesatkan.





