Sementara itu, Plt Direktur Utama Perumda Tirta Musi, M Azharuddin, menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata dukungan BUMD terhadap pengembangan energi terbarukan.
“Sebagai BUMD, kami tidak hanya menyediakan pelayanan air minum dan pengelolaan air limbah, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pemasangan PLTS ini adalah bentuk komitmen kami mendukung energi bersih,” katanya.
Menurut Azharuddin, Masjid Agung dipilih karena memiliki nilai historis, religius, dan sosial yang tinggi, serta menjadi simbol kebanggaan masyarakat Palembang.
Ia berharap keberadaan PLTS ini dapat menjadi inspirasi bagi fasilitas publik dan rumah ibadah lainnya untuk mulai memanfaatkan energi ramah lingkungan.
Secara teknis, sistem panel surya yang dipasang memiliki kapasitas terpasang sekitar 18,6 kWp dan diproyeksikan mampu menghasilkan listrik sekitar 24–25 MWh per tahun.
Dengan kapasitas tersebut, PLTS diharapkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan listrik operasional masjid sekaligus berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon hingga puluhan ton CO₂ selama masa operasional.
Peresmian PLTS di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo menjadi simbol transformasi Palembang menuju kota berkelanjutan.
Masjid Agung kini berdiri tidak hanya sebagai pusat spiritual, tetapi juga sebagai pionir pemanfaatan energi terbarukan yang membawa keberkahan bagi masyarakat Palembang.





