BAYANAKA.CO – Suku Kubu yang juga dikenal sebagai Orang Rimba atau Suku Anak Dalam merupakan salah satu komunitas adat tertua di Provinsi Jambi.
Keberadaan mereka tidak hanya menyimpan nilai budaya yang kuat, tetapi juga diwarisi berbagai legenda yang menjadi pedoman hidup dan identitas masyarakat rimba hingga saat ini.
Legenda Suku Kubu di Jambi dipercaya sebagai cerita asal-usul yang menjelaskan hubungan manusia, alam, dan roh penjaga hutan.
Menurut cerita turun-temurun, Orang Rimba berasal dari keturunan manusia pilihan yang dititipkan oleh alam untuk menjaga keseimbangan rimba. Dahulu kala, konon hiduplah sepasang suami istri di sebuah kerajaan besar di tanah Sumatera.
Karena suatu peristiwa besar yang melanggar adat dan kehendak leluhur, mereka memilih meninggalkan kehidupan istana dan masuk ke dalam hutan lebat. Dari merekalah kemudian lahir generasi yang hidup menyatu dengan alam, dikenal sebagai Orang Rimba.
Legenda tersebut mengajarkan bahwa hutan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan “rumah kehidupan” yang memiliki roh penjaga.
Orang Rimba meyakini setiap pohon besar, sungai, dan bukit memiliki penunggu yang harus dihormati. Oleh sebab itu, mereka dilarang menebang pohon sembarangan, membunuh hewan tanpa keperluan, atau merusak alam.
Pelanggaran terhadap aturan ini diyakini akan membawa bala, penyakit, atau musibah bagi pelakunya.
Dalam kisah lain yang berkembang di kalangan Suku Anak Dalam, disebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah manusia yang “menghilang” dari dunia ramai untuk menyelamatkan diri dari perang dan bencana.
Mereka memilih rimba sebagai tempat berlindung dan sejak itu berjanji hidup sederhana, tanpa serakah, serta selalu mengikuti hukum alam. Janji inilah yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui petuah dan legenda lisan.
Legenda Suku Kubu juga sering dikaitkan dengan tradisi melangun, yaitu kebiasaan berpindah tempat setelah ada anggota kelompok yang meninggal dunia.
Tradisi ini dipercaya sebagai cara menghormati arwah agar tidak mengganggu yang hidup, sekaligus bentuk kepatuhan terhadap pesan leluhur. Melalui legenda, nilai kesabaran, kebersamaan, dan penghormatan terhadap kematian ditanamkan sejak usia dini.
Meski hidup nomaden dan sederhana, Orang Rimba memiliki sistem sosial yang tertata. Tumenggung atau pemimpin adat dipercaya sebagai penjaga hukum adat sekaligus penghubung antara manusia dan roh leluhur.
Dalam legenda, Tumenggung sering digambarkan sebagai sosok bijak yang mampu membaca tanda alam dan menyampaikan pesan leluhur kepada kelompoknya.





