BAYANAKA.CO – Harga emas global mencatat kenaikan signifikan pada akhir pekan ini.
Lonjakan tersebut didorong oleh melemahnya data ekonomi Amerika Serikat serta meningkatnya ketidakpastian pasar setelah pengumuman kebijakan tarif baru oleh Presiden AS Donald Trump.
Mengutip Reuters, Minggu (22/2), harga emas spot naik 1,5 persen menjadi USD 5.071,48 per troy ons pada perdagangan Jumat (20/2) pukul 19.08 GMT.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup menguat 1,7 persen ke level USD 5.080,90 per troy ons.
Kenaikan ini mempertegas posisi emas sebagai aset safe haven yang paling dicari investor saat ketidakpastian ekonomi global meningkat.
Ketidakpastian Tarif AS Picu Volatilitas Pasar
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas adalah sikap pasar yang masih mencerna kebijakan tarif global terbaru dari Presiden AS Donald Trump.
Investor menilai kebijakan tersebut berpotensi memicu ketegangan perdagangan baru.
Tai Wong, trader logam independen, menilai kecil kemungkinan pemerintah AS benar-benar menghentikan kebijakan tarif.
“Sulit membayangkan presiden begitu saja mengemasi mainannya (tarif) dan pulang. Ia kemungkinan akan mencoba memberlakukan kembali tarif melalui aturan hukum lain, yang bisa memicu gejolak di pasar,” ujarnya.
Komentar ini memperkuat sentimen risk-off di pasar, yang biasanya menguntungkan emas.
Data Ekonomi AS Melambat Tajam
Selain faktor geopolitik, data ekonomi terbaru dari AS juga memberi dorongan kuat bagi harga emas dunia. Pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam dilaporkan melambat tajam.
Produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal keempat 2025 hanya tumbuh 1,4 persen secara tahunan.
Angka tersebut jauh di bawah proyeksi ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan mencapai 3 persen.
Perlambatan ini dipicu oleh:
- Penutupan pemerintahan (government shutdown)
- Penurunan belanja konsumen
- Melemahnya aktivitas ekonomi domestik
Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kesehatan ekonomi AS ke depan.
Inflasi Masih Tinggi, Ketidakpastian Berlanjut
Meski pertumbuhan melambat, tekanan inflasi di AS ternyata masih cukup kuat. Indikator inflasi favorit Federal Reserve, yakni indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), naik 0,4 persen pada Desember.
Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,3 persen. Kombinasi pertumbuhan melambat namun inflasi tetap tinggi menciptakan ketidakpastian kebijakan moneter.
Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior RJO Futures, mengatakan kondisi ini mendukung penguatan emas.
“Hal itu menunjukkan bahwa ekonomi belum mendekati titik balik. Masih banyak hal yang tidak diketahui dan ketidakpastian seputar ekonomi AS, dan itu mendukung harga emas,” jelasnya.
Logam Mulia Lain Juga Ikut Menguat
Tidak hanya emas, sejumlah logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan tajam pada akhir pekan.





